

Nenek Kusni (72 tahun) bertahan hidup dari beras yang tercecer di jalan π

Hanya dari memungut sisa yang jatuh dari truk,
beliau mengumpulkan beras untuk dijual kembali sebagai pakan ayam.
Satu liter hanya dihargai Rp5.000…
dan dalam sehari, paling banyak beliau hanya mendapat 3–4 liter.
Artinya,
penghasilan Nenek Kusni tak sampai Rp20.000 per hari.
Sudah lebih dari 20 tahun,
beliau melakukan pekerjaan ini.
Ia menyebutnya “nyapu”…
memungut beras yang bahkan sudah bercampur debu,
demi bisa makan hari itu.
Sejak suaminya meninggal,
Nenek Kusni harus bertahan seorang diri.
Bahkan,
kadang beliau harus tidur di pasar…

“kalau di atas beras nggak dingin,”
ceritanya lirih.
Nenek sebenarnya punya 3 anak,
namun kondisi mereka pun serba terbatas,
hingga belum mampu membantu sang ibu.
#SahabatBerbagi,
bayangkan…
di usia 72 tahun,
saat orang lain menikmati masa istirahat,
Nenek Kusni masih harus berjuang
demi sesuap nasi.
Hari ini, kita bisa jadi alasan
beliau tidak lagi tidur di pasar…
dan tidak lagi makan dari sisa.
Yuk, bantu ringankan beban Nenek Kusni π
Sisihkan sedikit rezeki kita,
untuk masa tua yang lebih layak bagi beliau.
![]()
Belum ada Fundraiser