
Mikayla baru berusia 7 tahun. Di usia sekecil itu, ia seharusnya masih banyak bermain, belajar dengan tenang, dan pulang ke rumah untuk disambut oleh orang tua. Namun takdir berkata lain. Ibunya telah meninggal dunia, sementara ayahnya menikah lagi. Sejak itu, Mikayla tinggal bersama kakek yang sudah pikun dan tuli, nenek yang juga sudah pikun, serta adiknya yang masih berusia 4 tahun.
Setiap hari, selepas pulang sekolah, Mikayla tidak bisa langsung beristirahat seperti anak-anak seusianya. Ia harus berjalan kaki berkeliling kampung untuk menjual kelapa tua seharga Rp5.000 per buah. Kelapa itu ia ambil dari pohon kelapa liar di sekitar rumahnya, karena hanya itulah yang bisa ia jual tanpa membutuhkan modal.
Namun, kelapa yang dijual Mikayla pun tidak selalu ada. Jika tidak ada sisa panen atau stok yang bisa didapat, ia tidak bisa berjualan. Padahal dari hasil jualan itulah Mikayla berusaha memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, membantu merawat adiknya, dan menopang kehidupan kakek serta neneknya yang sudah renta dan tidak lagi mampu bekerja.
Beban hidup Mikayla semakin berat karena keluarganya memiliki hutang sekitar Rp800.000 ke warung. Mereka sudah tidak bisa lagi menunggak, sementara tidak ada orang tua yang benar-benar hadir untuk menanggung kebutuhan mereka. Di usia yang masih sangat kecil, Mikayla terpaksa memikul peran besar sebagai tulang punggung keluarga.
Harapan Mikayla sebenarnya sangat sederhana. Ia ingin memiliki usaha kecil di rumah agar tidak perlu lagi berjalan jauh berkeliling kampung setelah pulang sekolah. Bantuan yang diberikan nantinya akan digunakan untuk modal usaha, biaya pendidikan, dan membeli sepatu. Semoga melalui bantuan ini, langkah kecil Mikayla bisa sedikit lebih ringan, dan masa kecilnya tidak lagi seberat hari-hari yang selama ini ia jalani.
![]()
Belum ada Fundraiser