

Bayangkan, di saat anak-anak seusia 6 tahun sibuk bermain, tertawa, dan belajar menulis huruf pertama mereka, Udi justru berdiri di atas jembatan, sejak pagi hingga sore hari. Dengan tangan kecilnya, ia menawarkan alat tulis dan amplop lebaran. Bukan untuk jajan. Bukan untuk mainan. Tapi untuk membantu kedua orang tuanya bertahan hidup.

Udi, anak kedua dari tiga bersaudara, tidak mengenal hari libur. Setiap hari, ia berjualan. Ia tahu betul, jika ia tidak membantu maka mungkin hari itu keluarganya tidak bisa makan. Kadang hingga siang hari, perutnya kosong. Ia menahan lapar, berharap dagangannya segera laku.
Bahkan pernah sampai 3 hari Udi tidak makan sama sekali. Di usianya yang masih sangat kecil, Udi sudah harus menahan sakit lambung. Bibirnya sariawan, giginya rusak—bukan karena ia tidak ingin bersih tapi karena ia tidak punya tempat untuk sekadar menggosok gigi.

Dua minggu lalu, hidup mereka semakin terpuruk. Udi dan keluarganya diusir dari kontrakan. Kini jembatan penyebrangan menjadi rumah mereka. Setiap malam, Udi tidur beralaskan kain tipis. Tanpa kasur. Tanpa selimut yang layak. Hanya berharap tidak kehujanan.
Ia bahkan tidak punya sandal. Kakinya yang kecil harus menahan kerasnya jalanan setiap hari. Dan yang lebih menyakitkan, Udi belum pernah merasakan bangku sekolah. Bukan karena ia tidak mau belajar. Tapi karena keadaan memaksanya memilih: bertahan hidup atau bersekolah.

Ibunya pernah menitipkan kakak Udi ke keluarganya yang lain, karena tidak mampu membiayai sekolah semua anaknya. Kini, harapan itu tertuju pada Udi. Sang ibu hanya ingin satu hal sederhana: agar anaknya bisa sekola, tidur di tempat yang layak, dan tidak lagi hidup di jalanan.
Namun hidup mereka tidak hanya tentang kekurangan, mereka juga pernah mengalami ketakutan yang tak terlupakan. Suatu hari, seseorang dalam keadaan mabuk menodong ibu Udi dengan pisau, mengambil uang yang sudah susah payah dikumpulkan untuk membayar kontrakan.
Sejak saat itu, rasa aman pun terasa hilang. Di balik semua itu, Udi tetap tersenyum. Ia membantu dengan ikhlas. Ia tidak mengeluh. Ia hanya ingin melihat kedua orang tuanya sedikit lebih ringan bebannya.
Sobat Berdampak! Hari ini, kita masih punya pilihan untuk membantu mengubah hidup Udi. Donasi yang Anda berikan akan membantu menghadirkan tempat tinggal yang layak untuk Udi dan keluarganya, memenuhi kebutuhan makan agar Udi tidak lagi menahan lapar, memberikan akses pendidikan untuk masa depan Udi, dan membantu keluarganya memulai usaha kecil agar tidak lagi hidup di jalan

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakan bagian dari program Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.
![]()
Belum ada Fundraiser