
Setiap hari, saat sebagian besar dari kita masih terlelap, Bu Enah (43 tahun) sudah berjuang melawan kantuk dan dinginnya malam. Mulai tengah malam, ia berbelanja, memotong, memasak, hingga mengemas dagangannya: sayur matang keliling. Bukan tugas ringan, sebab semua harus ia lakukan sendiri.

Pukul 6 pagi, Bu Enah memulai perjalanannya. Setiap hari, ia menempuh jarak 15 hingga 20 kilometer dengan berjalan kaki, menjajakan sayurnya hingga tengah hari. Ia adalah satu-satunya sumber penghasilan bagi 6 jiwa yang bergantung padanya di rumah.
Namun, beban yang dipikul Bu Enah jauh lebih berat dari jarak yang ia tempuh:

Modal Habis, Dapur Roboh, Perut Kerap Kosong
Tiga tahun berjuang berjualan, Bu Enah hanya mendapat keuntungan Rp100.000 hingga Rp150.000 dari modal Rp300.000 — itu pun jika dagangan habis. Seringkali dagangannya tak laku, terpaksa dimakan keluarga, yang berarti modal untuk besok hilang atau berkurang.
Saat ini, kondisi Bu Enah berada di titik kritis.

Bu Enah sempat berpikir untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), namun kemudian menepisnya. "Kalau Bu Enah pergi, lalu siapa yang akan mengurus Pian, Ibu, dan suaminya?"Mari Bantu Bu Enah Bangkit Kembali!
Bu Enah tidak meminta belas kasihan. Ia hanya ingin memiliki modal dan sarana untuk kembali berjuang mencari nafkah.

Bantuan Anda tidak hanya akan mengisi perut Bu Enah dan keluarganya yang kelaparan, tetapi juga akan mengembalikan martabatnya sebagai penopang keluarga.
Satu klik donasi dari Anda adalah harapan untuk 6 jiwa. Mari kita berikan modal, perbaiki dapurnya, dan biarkan Bu Enah kembali berjalan, bukan untuk menahan lapar, melainkan untuk menjemput rezeki.