
Pernahkah Anda membayangkan rasanya ditolak di Rumah Allah?
Itulah kepedihan yang kini dirasakan Abah Jari (72 tahun). Bukan karena ia tak pantas, tapi karena kanker ganas di wajahnya mengeluarkan bau tak sedap dan darah yang terus menetes.

Dengan langkah gemetar menahan sakit, Abah pernah mencoba melangkah ke masjid. Rindunya pada shalat berjamaah begitu besar. Namun sesampainya di sana, ia diminta pulang. Orang-orang tak sanggup mencium bau lukanya.
Di saat itulah, hati tua Abah hancur. Ia pulang, menangis dalam sunyi, dan bertanya: "Ya Allah, sampai kapan hamba harus menanggung rasa sakit dan rasa malu ini?"

Awalnya hanya tahi lalat kecil yang gatal. Karena ketidaktahuan, Abah menggaruknya hingga luka. Siapa sangka, luka itu kini berubah menjadi monster yang memakan wajahnya.
Mata kanannya kini sudah buta tertutup daging tumbuh.
Hidungnya sering mengalami pendarahan hebat secara tiba-tiba.
Setiap malam, Abah tak bisa tidur karena rasa perih yang menyayat tulang.
Kondisinya kritis. Dokter bilang, satu-satunya harapan Abah adalah rujukan segera ke RS Dharmais Jakarta. Namun bagi Abah, Jakarta adalah mimpi yang mustahil. Anaknya hanyalah penjual gorengan keliling. Penghasilan hariannya habis untuk makan, tak ada sisa untuk ongkos transportasi, sewa tempat tinggal, atau biaya hidup selama pengobatan di ibu kota.

Sahabat, jangan biarkan Abah Jari menghabiskan sisa usianya dalam kesakitan dan rasa malu yang mendalam. Mari kita bantu ringankan biaya operasional agar Abah bisa segera berangkat menjemput kesembuhan, dan kelak bisa kembali shalat berjamaah tanpa takut diusir lagi.
Bantu Abah Jari berobat sekarang dengan klik tombol donasi sekarang