
Di saat anak-anak seusianya meminta mainan, Farel hanya ingin tetap bisa sekolah dengan layak. Tanpa pelukan seorang ibu dan dengan sejuta rindu untuk sang ayah yang telah tiada, Farel yang kini berusia 10 tahun harus belajar tentang kehilangan lebih cepat dari anak-anak lainnya. Sejak kecil ia telah menjadi yatim, dan setelah ibunya menikah lagi serta mengembalikannya ke keluarga almarhum ayahnya, Farel tinggal dan diasuh oleh bibinya. Hingga kini, ibunya belum pernah lagi datang menengok tanpa ada kabar maupun pelukan.

Setiap hari, sepulang sekolah dan saat jam istirahat, Farel berubah menjadi penjual kecil dengan termos berisi es mambo. Ia berjalan berkeliling menawarkan dagangannya kepada teman-teman sekolahnya dengan harga Rp1.000 per es mambo. Dari seribu rupiah itulah ia belajar arti tanggung jawab demi membantu bibinya yang sudah merawat dan menyayanginya, karena ia tak ingin menjadi beban.
Namun, menjadi anak kecil yang berjualan tentu tak selalu mudah; ada hari-hari ketika esnya tak habis atau ia harus menahan keinginan membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Bahkan, untuk membeli sepatu sekolah yang mulai sempit dan usang pun Farel sering kali hanya bisa berharap, sementara alat tulis yang habis kerap membuatnya kebingungan. Meskipun tak pernah mengeluh atau menyalahkan keadaan, jauh di dalam hatinya tersimpan satu doa yang sama: ingin dipeluk ibunya sekali saja. Farel mengajarkan kita bahwa ketabahan tak mengenal usia, di mana di setiap es mambo yang ia jual terdapat perjuangan dan harapan agar esok hari bisa sedikit lebih ringan.

Orang Baik, mari kita bantu ringankan langkah Farel agar ia bisa terus bersekolah dengan layak dan mewujudkan mimpi-mimpinya.
Salurkan bantuan terbaik Anda dengan cara:
Klik tombol "DONASI SEKARANG".
Masukkan nominal donasi.
Pilih metode pembayaran yang tersedia.
Segera lakukan transfer untuk mendukung pendidikan Farel.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik