
"Makasih ya Neng, akhirnya dagangan Abah ada yg beli. Udah 2 hari gak laku.." Tubuh yang renta, kaki terpincang-pincang, dan perut lapar dipaksa untuk terus berjalan demi mencari rezeki, menjadi perjuangan pilu Abah Bandi (80) demi sesuap nasi.

"Kalau jalan kelamaan, kaki Abah sakit, pegal, nyeri. Apalagi perut Abah juga laper banget, Neng.." Tubuh bagian kanan Abah memang tidak bisa digunakan secara normal karena pernah mengalami stroke dan tidak diobati karena tak ada uang, namun ia tak punya pilihan dan bakul arumanis yang lumayan berat selalu dipikulnya setiap hari. Abah bahkan sempat bercerita sambil meneteskan air mata, "Abah jualan arumanis cm 1000rb-an tp kok gaada yg mau beli ya Neng.. Ada yang bilang gini, ‘Jajanan kayak gitu ga sehat, bikin penyakit!’ Padahal Abah cm usaha biar bisa makan.." Pernah pula suatu hari Abah berniat membeli beras dari uang yang ia kumpulkan selama seminggu, namun ternyata uang-uang tersebut robek dan tidak bisa dipakai, meskipun untungnya pemilik warung berbaik hati menerima uang Abah saat ia merasa sedih dan malu sekali.
Jika boleh memilih, mungkin Abah pun tak akan mau seperti ini, namun baginya ini lebih baik daripada mengemis dan mengharapkan bantuan dari orang lain.
#TemenBaik, Abah memiliki impian bisa hidup layak di masa tuanya, setidaknya bisa makan dan minum dengan cukup setiap hari. Mari bantu ringankan beban Abah Bandi dan lansia dhuafa lainnya.
Salurkan bantuan terbaik Anda dengan cara:
Klik tombol "DONASI SEKARANG".
Masukkan nominal donasi.
Pilih metode pembayaran yang tersedia.
Segera lakukan transfer untuk membantu meringankan beban hidup Abah Bandi.
![]()
Belum ada Fundraiser