

Setiap anak berhak memiliki masa kecil yang penuh tawa. Namun, di sudut-sudut jalan yang mungkin tak pernah kita lewati, ada jerit tangis anak-anak kecil yang sedang bertaruh nyawa melawan tumor dan kanker ganas. Masa kecil mereka telah direnggut, dan kini penyakit tersebut secara nyata mengancam masa depan dan nyawa mereka.
Bayangkan penderitaan dik Putri (2 tahun) yang kini harus memikul tumor ganas di pipi kanannya sebesar bola voli, sebuah efek dari kanker mata yang terus menjalar. Benjolan itu kian menghitam, bernanah, dan mengeluarkan bau tidak sedap , membuat Putri kesulitan untuk sekadar duduk dan makan, bahkan kini kedua matanya telah buta. Nasib serupa dialami Alika; kanker menggerogoti matanya hingga ia tak bisa melihat. Setiap kali ia menangis menahan rasa perih yang luar biasa, tak jarang darah segar justru mengucur dari matanya. Di tempat lain, Aldi (6 tahun) harus merelakan rahang bawahnya diangkat akibat kanker mulut yang tumbuh begitu cepat hingga keluar dari rongga mulutnya. Kini, Aldi hanya bisa bertahan hidup lewat asupan susu formula mahal yang dialirkan melalui selang hidung (NGT).


Tak hanya di area wajah, ada pula balita yang harus menanggung beban memilukan di punggung mungil mereka. Adila (2 tahun) menderita tumor punggung sejak lahir yang terus membengkak seiring bertambahnya berat badannya, memberikan rasa sakit, gatal, dan panas yang sangat menyiksa. Dokter memperingatkan bahwa tumor itu harus segera dioperasi sebelum pecah dan berakibat fatal. Penderitaan yang sama dirasakan Aidam, yang sejak lahir ditumbuhi benjolan raksasa di punggungnya. Karena tak pernah mendapat perawatan medis, benjolan itu dibiarkan membesar hingga menarik kakinya menjadi bengkok.

Di balik tangisan anak-anak ini, ada hati orang tua yang hancur berkeping-keping namun terus memeras keringat demi sepeser harapan. Ayah Adila hanyalah tukang ojek yang motornya sering mogok. Ibu Aidam berjuang sebagai pedagang seblak rumahan dengan penghasilan bersih 20-30 ribu rupiah. Ayah Aldi yang dulunya nelayan, kini terpaksa menjadi tukang bersih-bersih kontrakan di Jakarta dengan upah 10-15 ribu rupiah per hari demi menemani anaknya berobat. Nasib serupa dijalani Ayah Putri yang berjualan kopi keliling dengan penghasilan 10-15 ribu rupiah , sementara Ayah Alika baru saja kehilangan pekerjaannya sebagai supir. Pendapatan belasan ribu itu bahkan tak cukup untuk makan sehari-hari , apalagi untuk melunasi biaya operasi, perawatan intensif, dan kebutuhan medis yang tidak di-cover asuransi.
Adila, Aidam, Aldi, Alika, dan Putri hanyalah segelintir dari sekian banyak anak-anak pejuang kesembuhan yang saat ini sedang menunggu uluran tangan kita.


Melalui ruang kebaikan niatbaik.id yang bekerjasama resmi dengan Yayasan Amanah Kebaikan Insani, kami mengajak Anda untuk menjadi bagian dari mukjizat yang didoakan oleh para orang tua ini setiap malam. Seluruh donasi yang terkumpul akan disalurkan secara transparan untuk membiayai operasi darurat, kemoterapi, pembelian susu gizi, serta biaya penunjang medis bagi anak-anak yang membutuhkan pertolongan kesehatan segera.

Mari satukan hati, sisihkan sedikit rezeki kita, dan selamatkan masa depan mereka hari ini. Kepedulian kita adalah penyambung nyawa bagi mereka.
![]()
Belum ada Fundraiser